Hari Pers Nasional dalam Sejarah dan Makna

Presiden Jokowi
Pemukulan rebana menandai perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 bersama Presiden Joko Widodo di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2/2020). HPN 2020 mengusung tema Pers Menggelorakan Kalimantan Selatan Gerbang Ibu Kota Negara. (Dok. https://kompaspedia.kompas.id)

Terkini.id, Batam – Hari Pers Nasional (HPN) yang diperingati setiap tanggal 9 Februari juga bertepatan dengan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Di samping adanya pro dan kontra penetapan HPN, pers nasional menghadapi tantangan ganda karena pandemi Covid-19 yang belum reda hingga saat ini.

Selamat Hari Pers Nasional 2021

Hari Pers Nasional (HPN) dilaksanakan setiap tahun secara bergantian di ibu kota provinsi yang berbeda di Indonesia. Selain peringatan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), masyarakat Indonesia juga memperingati Hari Pers Nasional pada setiap tanggal 9 Februari.

Pada tahun 2021 ini, Keputusan mengalihkan tempat pelaksanaan HPN 2021 ke DKI Jakarta itu juga diikuti dengan pemilihan tema sebagai semangat perlawanan terhadap masifnya serangan virus korona. Tema besar HPN 2021 kemudian ditetapkan menjadi “Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan”.

Peringatan HPN setiap tahun dapat menjadi penyemangat sekaligus menantang para insan pers untuk selalu mempertanyakan peran pers pada zamannya, termasuk pada saat pandemi Covid-19 saat ini.

Menurut sejarah, Peringatan HPN pertama kali secara resmi diselenggarakan di Gedung Utama Pekan Raya Jakarta, 9 Februari 1985. Pada tahun 2021, Dimana, peringatan HPN awalnya akan dilaksanakan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Namun, karena pandemi Covid-19 belum juga reda, pusat perhelatan HPN 2021 diputuskan dialihkan ke Jakarta, baik secara luring maupun daring.

Dimana, gagasan awal mengenai HPN muncul pada Kongres ke-16 PWI, Desember 1978, di Padang, Sumatera Barat. Salah satu keputusan kongres waktu itu adalah mengusulkan kepada pemerintah agar menetapkan tanggal 9 Februari yang sekaligus tanggal lahir PWI sebagai HPN (Kompas, 3/2/2018).

Sebelum ditetapkan resmi oleh pemerintah, Hari Pers Nasional diperingati pertama kali pada 9 Februari 1981 bertepatan dengan ulang tahun PWI ke-35. Peringatan tersebut dipusatkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, bersamaan dengan Konferensi Kerja PWI tanggal 9-11 Februari 1981 (Kompas, 9/2/1981). Selanjutnya, dalam sidang ke-21 Dewan Pers di Bandung pada 19 Februari 1981, usulan penetapan tanggal 9 Februari sebagai HPN disetujui oleh Dewan Pers untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah.

Akhirnya, setelah tujuh tahun diusulkan, terbitlah Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985  yang menetapkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional. Menurut Keppres tersebut, alasan penetapan HPN adalah demi mengembangkan kehidupan pers nasional Indonesia sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab berdasarkan Pancasila.

Dalam Keppres 5/1985 itu, disebutkan pula bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan dan peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Keppres tersebut menegaskan pula bahwa pemilihan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional didasarkan atas tanggal pembentukan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia tahun 1946 yang dianggap sebagai pendukung dan kekuatan pers nasional. Berdasarkan Keppres 5/1985 tersebut, Hari Pers Nasional kemudian pertama kali diselenggarakan secara resmi pada 9 Februari 1985.

Sambil tersenyum Presiden Soeharto menabuh gendang berkali-kali menyambut Hari Pers Nasional (HPN) 1990 yang dipusatkan di kota Ujungpandang, Kamis (8/2) kemarin, disaksikan (dari kanan) Menpen Harmoko, Ketua Umum PWI Pusat Soegeng Widjaja dan Gubernur Sulsel Prof Dr Achmad Amiruddin. (Dok. https://kompaspedia.kompas.id)

Alasan penetapan tanggal 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional kembali dikemukakan oleh Presiden Soeharto dalam sambutan Peringatan Hari Pers Nasional Pertama 9 Februari 1985. Menurut Presiden, “Tanggal 9 Februari kita jadikan sebagai Hari Pers Nasional, karena pada hari itu 39 tahun yang lalu terjadi peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi perjuangan bangsa kita, terutama bagi pertumbuhan dan pengabdian pers nasional kepada bangsa dan negara. Pada hari itu, hanya sekitar enam bulan setelah bangsa kita memproklamasikan kemerdekaan, PWI lahir.”

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Soeharto juga menegaskan peran pers sebagai kekuatan bangsa. Menurut Presiden, “wartawan Indonesia adalah kekuatan perjuangan yang bahu-membahu dengan kekuatan perjuangan lainnya berjuang untuk mempertahankan Republik Proklamasi yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.”

Bahkan, menurut Presiden, “sebagai bagian dari kekuatan bangsa, pers nasional pun timbul dan tenggelam bersama-sama perjalanan sejarah bangsanya.”

Salah satu tugas pers, menurut Presiden Soeharto, adalah mengungkapkan kebenaran. “Di mana kebenaran menjadi redup, di situlah pers harus muncul sebagai obor penerangan. Pertumbuhan dan peningkatan pers nasional yang demikian akan ikut memberi arah dan sifat yang positif terhadap perkembangan dan pertumbuhan bangsa Indonesia secara keseluruhan,” kata Presiden.

Selain menegaskan tugas pers, Presiden Soeharto juga menegaskan fungsi pers. Menurut Presiden, fungsi pers adalah “sebagai penyalur informasi yang objektif, melakukan kontrol sosial yang konstruktif, menyalurkan aspirasi rakyat, dan meluaskan komunikasi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila.”

Di sisi lain, Presiden juga mengungkapkan harapannya terhadap pers nasional. Presiden Soeharto menegaskan, “pers nasional dalam zaman pembangunan ini tidak saja merupakan cermin pasif dari keadaan masyarakat Indonesia, tidak cukup hanya memberikan informasi melalui berita-berita objektif. Tetapi, pers nasional sebagai kekuatan perjuangan bangsa harus dapat menjadikan dirinya sebagai kekuatan pembaharuan.” (Kompas, 10/2/1985).

Makna Hari Pers Nasional

Tajuk Rencana Kompas yang terbit pada tanggal 9 Februari 1985 menuliskan makna peringatan HPN. Dalam rangka menyambut peringatan HPN yang untuk pertama kalinya digelar, dalam Tajuk Rencana Kompas tersebut, antara lain ditulis, “Pada Hari Pers Nasional yang pertama, kesadaran pertama ialah kesadaran untuk secara apa adanya mengakui kekurangan serta menggugat diri untuk senantiasa berusaha memperbaikinya.”

Selain itu, disebutkan pula, “Hari Pers Nasional bermakna lebih luas dari hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia. Dalam karya pers, wartawan selalu akan menempati peranan sentral dan pokok, namun tidak lagi sendirian. Posisinya yang sentral dan pokok hanya berkembang secara optimal apabila dalam kerja sama dengan karyawan di berbagai bidang yang kini menjadi bagian-bagian integral dari lembaga bernama pers.”

Tajuk Rencana Kompas mengajak untuk memaknai Hari Pers Nasional sebagai kesempatan untuk selalu menggugat peran pers dan mempertanyakan, “apakah peranan pers dewasa ini dan yang akan datang dan apakah pers telah secara memadai menjalahkan perannya.”

Tajuk Rencana Kompas membahas peringatan Hari Pers Nasional yang pertama, Kompas, 9 Februari 1985. (Dok. https://kompaspedia.kompas.id)

Pemaknaan tersebut sekaligus menegaskan tanggung jawab pers untuk “senantiasa secara jernih dan menyeluruh menunjukkan kepada khalayak, apa pokok-pokok persoalan yang kita hadapi sebagai bangsa dan negara.”

Untuk melaksanakan tugasnya sebagai penunjuk persoalan bangsa dan negara, di bagian akhir tulisan Tajuk Rencana disimpulkan, “masyarakat pers hanya dapat melaksanakan tugas-tugas berat itu, apabila masyarakat pers mengembangkan diri dan semakin dilengkapi dengan sumber daya manusia, visi, pengetahuan umum, keterampilan dan watak yang menunjangnya. Disepakati, visi yang menjadi kerangka acuan pers Indonesia ialah visi yang digali secara kreatif dan aktual dari perikemanusiaan kerakyatan, keadilan sosial, kebersamaan, ketakwaan seperti menjadi kaidah dasar bangsa dan negara Indonesia.”

Tulisan Oleh Antonius Purwanto

Sumber : https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/hari-pers-nasional-sejarah-peringatan-polemik-dan-tantangannya

Konten Bersponsor

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar