Sejarah Asal Usul Nama Kota Batam dan Hubungan dengan Kerajaan Inggris

Icon WTB
Icon Kota Batam: Landmark Welcome to Batam, yang lebih di kenal WTB. (Doc. Google)

Terkini.id, Batam – Batam merupakan salah satu kota dari Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang terkenal di Indonesia dengan kawasan industrinya. Kota ini awalnya dikembangkan sejak tahun 1970-an sebagai pusat industri dan jalur transit logistik perdagangan.

Seiring berjalannya waktu, kini Batam menjadi salah satu kota metropolis modern di Indonesia dengan ciri mulai banyak gedung-gedung tinggi dan mobilisasi masyarakat urban. Letak geografis yang berdekatan dengan Singapura menjadi salah satu pemicu pesatnya kemajuan di Kota Batam.

Di sisi lain Kota Batam juga merupakan sebuah pulau terbesar di daerah Kepri, tetapi belum jelas diketahui dari mana asal usul literatur sejarah masa lampau di waktu Johor dan Riau masih merupakan Kerajaan Melayu.

Peta Pulau Batam. (Doc. google)

Tanggal 18 Desember 1829 merupakan Hari Jadi Kota Batam melalui ketetapan Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 5 Tahun 2009 pada 23 Juli 2009. Penetapan hari jadi tersebut berdasar pada catatan sejarah pemerintahan Kota Batam.

Pulau Batam yang mulanya merupakan pulau kembaran dari Singapura diserahkan oleh Lord Minto dan Raffles dari Kerajaan Inggris kepada Pemerintahan Hindia Belanda melalui kesepakatan “barter” pada abad ke-18. Komisaris Jenderal Pemerintah Hindia Belanda P.J Elout yang sekaligus menjabat sebagai Residen Riau atas nama Sultan Abdul Rahmansyah YTM (Yang Dipertuan Muda) Riau  pada tanggal 18 Desember 1829 menunjuk Raja Isa untuk memegang pemerintahan atas daerah Nongsa dan Rantau taklukannya.

Sampai saat ini belum ditemukan data maupun karya ilmiah valid yang bisa dijadikan argumen kuat mengenai pemberian nama Batam. Ada berbagai versi yang muncul di tengah masyarakat justru bukan dari penghuni asli pulau yang indah ini. Bukti penamaan Batam hanya berdasarkan cerita lisan dari mulut ke mulut.

Jika Anda berkunjung ke kota ini dan bertanya ke penduduk setempat rata-rata mereka akan kebingungan atau akan menjawab dengan salah satu versi dari berbagai versi yang beredar di masyarakat.

Salah Satu Icon Kota Batam saat ini, Jembatan Barelang. (Doc. Google)

Setidaknya ada tiga versi asal mula nama Batam yang cukup terkenal. Pertama, berdasarkan penuturan kisah hikayat rakyat Melayu tentang cerita Si Badang dan Putri Tumasik yang ditulis oleh Abdul Razak dalam buku “Patahnya Gunung Daik”. Menurutnya, kata Batam merupakan sebuah akronim dari nama Batu Ampar (baca: batu ampa), sebuah wilayah kecamatan di Kota Batam.

Versi kedua, menyebutkan bahwa “Batam” berasal dari kata “Batang” yang diangkat dari kisah hikayat dewa penunggu tanah semenanjung pulau yang sangat labil. Saking labilnya, tanah di semenanjung itu ikut terbuai saat terkena terpaan angin kencang dari selatan. Sang dewa penunggu pun melindungi tanah semenanjung itu dengan meletakkan berbagai batang kayu yang masih berumbi menjadi sebuah barikade di belakang selatan semenanjung.

Versi ketiga yang tak kalah populer dituturkan dalam kisah hikayat “Dari Nongsa ke Pulau Terong”, karya Abdul Basyid dan Raja Erwan. Pada versi ini disebutkan kalau kata Batam berasal dari keberadaan pelanduk putih (seekor satwa sejenis kijang kecil atau kancil) yang sempat hidup di daerah tersebut. Meski tampak tidak berhubungan sama sekali secara tekstual, setidaknya hikayat ini dapat memperkaya khasanah hikayat tentang sejarah Kota Batam.

Versi tersebut cukup unik dengan menyebutkan kisah perjuangan hidup sepasang suami istri Bujang Jenali dan Siti Jamilun yang hidup di sebuah kampung sebelah utara pulau, yang kini bernama Batam.

Tampak bangunan-bangunan pencakar langit dari negara tetangga SIngapura dari kejauhan, yang hanya dapat dilihat dari pulau Batam. (DOc. Google)

Keseharian Bujang Jenali dikisahkan bekerja menangkap ikan dan berburu pelanduk untuk bertahan hidup bersama keluarganya. Pada suatu hari, isttinya Siti Jamilun menginginkan pelanduk berbulu hitam atau kelabu. Tidak putih seperti biasa Bujang Jenali dapatkan dari berburu.

Dengan tekad ingin membahagiakan sang istri, Bujang Jenali pun agak lama berburu pelanduk dan meninggalkan istrinya. Namun, perburuannya tak membuahkan hasil dan kaget saat pulang menemukan istrinya terkapar lemas dalam lilitan ular besar. Bujang Jenali pun menebas kepala ular tersebut hingga lilitannya merenggang dan istrinya terselamatkan.

Sejak tragedi itu, Bujang Jenali semakin bulat tekadnya untuk tidak mengecewakan sang istri dengan mendapatkan seekor pelanduk selain berbulu putih. Namun, secara detil hingga akhir kisah tidak dijelaskan mengenai berhasil tidaknya Bujang Jenali membawa pelanduk warna hitam atau kelabu seperti keinginan Siti Jamilun.

Apabila merujuk pada versi ketiga ini, pulau yang mereka tinggali disebut orang sebagai Pulau Pelanduk Putih yang kelak dinamai Pulau Batam.

Pelesetan Kepanjangan Kata Batam

Selain dari ketiga versi hikayat tersebut, ada pula akronim dari kata Batam yang berkembang di masyarakat yang sebagian besar merupakan perantau dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa singkatan pelesetan tersebut di antaranya adalah Bila Anda Tiba, Anda Menyesal atau Bila Anda Tabah Anda Menang. Maka tidak heran jika pelesetan tersebut dijadikan slogan penyemangat bagi para perantau agar bisa meraih kesuksesan di Batam.

(Sumber : suara.com)

Konten Bersponsor

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar